Minggu, 30 Juni 2024

Arus Listrik Konvensional VS Arus Listrik Elektron

Artikel ini adalah catatan mengenai teori dasar listrik dan elektronika, khususnya tentang arus listrik. Ada alasan mengapa saya menulis ini, yaitu karena keunikan dari sebuah teori yang berlawanan dengan fakta namun masih digunakan dan tetap relevan sampai saat ini. Saya pernah berdebat dengan teman tentang hal ini, kemudian ditengahi oleh seorang guru yang menjelaskan bahwa kedua teori tersebut adalah benar. Hal ini sempat membingungkan saya, bagaimana bisa? Teori yang saya maksud adalah teori arus listrik konvensional, yang menyatakan bahwa arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Ternyata teori ini didasarkan pada asumsi dari pengamatan para ilmuwan di abad ke-18. Pada faktanya teori ini berlawanan dengan teori terbaru tentang arus listrik yang ditemukan di akhir abad ke-19, menyatakan bahwa arus listrik yang mengalir adalah partikel-partikel yang dinamakan elektron bergerak dari kutub negatif ke kutub positif.


Mencari Sumber Informasi

Pembahasan kali ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana teori arus listrik, yang berbeda dengan fakta hasil pengamatan sebenarnya, dapat menjadi sebuah konsensus yang masih relevan hingga saat ini. Dari keingintahuan tersebut, saya terdorong untuk menggali asal muasal pemahaman ini. Sejak kapan dan dari mana munculnya pemahaman bahwa arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif?

 

Kontribusi Benjamin Franklin

Dari beberapa informasi sejarah arus konvensional yang saya cari di Google, banyak artikel yang mengarah kepada seorang ilmuwan bernama Benjamin Franklin. Berawal dari pengamatan listrik, Franklin memperkenalkan bahwa listrik statis yang dihasilkan dari gesekan dapat bersifat dinamis, yaitu dapat mengalir pada sebuah benda dengan polaritas positif dan negatif. Teori ini dibuktikan dengan beberapa kali eksperimen. Dan yang paling terkenal adalah eksperimen mengalirkan listrik petir menggunakan layang-layang. Dalam surat-suratnya kepada Peter Collinson, beliau menulis bahwa muatan positif menunjukkan kelebihan fluida listrik dan muatan negatif menunjukkan kekurangan fluida listrik. Konsep ini yang diyakini mendasari pemahaman arus listrik konvensional​ (USHistory)​​ (Wikipedia)​. Namun, saya belum menemukan teks yang secara tegas menyatakan arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif.

 

Eksperimen Petir Benjamin Franklin, sumber gambar : USHistory.org


Penemuan-penemuan Baru dan Pengaruhnya

Pada perkembangan berikutnya masih di abad ke-18, muncul penemuan-penemuan terbaru, di antaranya oleh Luigi Galvani pada tahun 1791 yang mengkonfirmasi adanya arus listrik yang dapat dialirkan dari katak yang beliau sebut sebagai listrik yang berasal dari hewan. Namun, dalam hal ini juga tidak secara jelas disebutkan jika aliran listrik mengalir dari positif ke negatif.

Luigi Galvani, sumber gambar : id.wikipedia.org

Kemudian, dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, pada tahun 1800, Alessandro Volta membantah bahwa listrik bukan berasal dari hewan seperti yang disampaikan Luigi Galvani, melainkan berasal dari reaksi kimia logam tak sejenis. Beliau membuktikan ini dengan pengumumannya tentang baterai listrik yang dikenal sebagai tumpukan Volta atau kolom Volta. Baterai Volta terdiri dari cakram seng dan perak (atau tembaga dan timah) yang berselang-seling dipisahkan oleh kertas atau kain yang direndam dalam air garam atau natrium hidroksida.

Alessandro Volta, sumber gambar : id.wikipedia.org

Dalam penemuan ini, Volta menuliskan sebuah surat dan menceritakan adanya aliran listrik yang dihasilkan dari alat tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh manusia. Beliau bahkan sempat mencobanya dengan lidah dan membolak-balik bahan logam yang digunakan. Dari sensasi rasa, disebutkan ada perbedaan aliran listrik ke sisi negatif yang lebih kuat, mungkin ini mengindikasikan polaritas tegangan. Pada tahun 1801, Alessandro Volta memperkenalkan istilah "force motrice électrique" yang berarti "gaya penggerak listrik" untuk menggambarkan zat aktif baterai (yang ia temukan sekitar tahun 1798). Ini disebut "gaya gerak listrik" dalam bahasa Inggris Electromotive Force atau disingkat E.M.F. 

Ilustrasi Baterai Volta, sumber gambar : Archive.org

Dalam surat ini saya belum menemukan teks yang menyebutkan arah aliran listrik mengalir dari positif ke negatif. Dalam beberapa artikel yang saya telusuri di google ada istilah anoda dan katoda dalam pembahasan penemuan Volta. Namun ketika saya mencari istilah Anoda dan Katoda dalam teks ini, saya belum menemukannya. Mungkin keterbatasan saya yang hanya menggunakan Google Translate, sehingga menyebabkan kebingungan. Karena teks aslinya dalam bahasa Prancis abad ke-18.

Meskipun Volta tidak secara eksplisit menyatakan arah aliran arus, namun konsep Beliau ini mendukung pemahaman bahwa arus listrik mengalir dalam satu arah tertentu​. Hal ini mengindikasikan kala itu memang pemahaman arus listrik konvensional sudah mulai digunakan.

 

Penemuan Hukum Ohm dan Korelasinya dengan Arus Konvensional

Georg Ohm, sumber gambar : id.wikipedia.org

Saya melewati kebuntuan mencari-cari dari mana asal muasal pemahaman yang menyatakan secara tekstual bahwa arus mengalir dari positif ke negatif. Dan akhirnya mulai mencoba membuka kembali tentang teori dasar Hukum Ohm yang dikemukakan oleh ilmuan terkemuka yaitu George Simon Ohm. Saya menemukan teks yang ditulis di abad ke-18 oleh beliau dalam bukunya sebagai berikut:

"Consequently, if we define resistance as proportional to the length of wire of constant section, and as inversely proportional to the cross-section where that varies, we shall be justified in saying that with a given difference of potentials or E. M. F. between two points, the current which flows will be inversely proportional to the resistance separating these points; and again, that with a constant resistance separating two points, the current flowing will be simply proportional to the E. M. F. or difference of potential between the points. If, then, we call C the current, I the electromotive force, and R the resistance of the conductor, we find that C is proportional to the quotient : I / R and is affected by no other circumstances, hence we have : C = I / R, or R = I / C, or I = C R.

This equation expresses Ohm’s law, which may be stated thus : 

When a current is produced in a conductor by an E. M. F., the ratio of the E.M. F. to the current is independent of the strength of the current, and is called the resistance of the conductor."

Diterjemahkan, sebagai berikut:

"Sebagai hasilnya, jika kita mendefinisikan resistansi sebagai berbanding lurus dengan panjang kawat dengan penampang konstan, dan berbanding terbalik dengan luas penampang yang bervariasi, kita akan beralasan mengatakan bahwa dengan perbedaan potensial atau E.M.F yang diberikan antara dua titik, arus yang mengalir akan berbanding terbalik dengan resistansi yang memisahkan kedua titik tersebut; dan lagi, bahwa dengan resistansi konstan yang memisahkan dua titik, arus yang mengalir akan sederhana berbanding lurus dengan E.M.F atau perbedaan potensial antara titik-titik tersebut. Jika kita menyebut C sebagai arus, I sebagai gaya elektromotif, dan R sebagai resistansi penghantar, kita menemukan bahwa berbanding lurus dengan kuantitas: I / R dan dipengaruhi oleh tidak ada keadaan lainnya, maka kita memiliki: C = I / R, atau R = I / C, atau I = C R.

Persamaan ini mengungkap hukum Ohm, yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

Ketika arus dihasilkan dalam penghantar oleh E.M.F, rasio E.M.F terhadap arus tidak tergantung pada kekuatan arus, dan disebut resistansi penghantar."

Dari teks yang beliau tulis tersebut, kita bisa mengamati bahwa kala itu belum ditetapkan bahwa beda potensial antar ujung kawat penghantar seperti yang dikenal sebagai Voltage atau Voltase atau tegangan melainkan dikenal sebagai E.M.F (Electromotive Force), atau biasa kita kenal juga sebagai GGL (Gaya Gerak Listrik). Yang mana dalam istilah modern antara Tegangan dan EMF adalah dua hal yang memang memiliki kesamaan namun sebenarnya adalah istilah yang berbeda. Istilah EMF ini masih berkaitan dengan istilah yang diperkenalkan Alessandro Volta dalam temuannya. Pada teks di atas, EMF sendiri dimasukan pada sebuah persamaan dan diberi lambang I bukan V seperti dalam lambang modern, sedangkan arus listrik diberi lambang C bukan I seperti dalam lambang modern. Artinya lambang-lambang dan istilah-istilah kelistrikan belum seperti yang kita ketahui sekarang di masa modern.

Kembali pada tujuan artikel ini, poin utama dari teks di atas adalah dengan memahami asal muasal hukum Ohm di atas adalah menjadi indikasi penguat bahwa sebelum penemuan elektron, arah aliran arus listrik konvensional sudah digunakan. 

Pernyataan George Simon Ohm tersebut menjelaskan hukum Ohm, yang menyatakan hubungan parameter-parameter yang ada dalam sebuah penghantar yang dialiri listrik, bahwa: Ketika sebuah gaya elektromotif (EMF) menyebabkan arus listrik mengalir melalui penghantar, maka rasio antara EMF dan arus tersebut adalah tetap. Rasio ini tidak dipengaruhi oleh kekuatan arus yang mengalir. Rasio ini disebut resistansi penghantar.

Secara matematis, saat ini dalam pelajaran modern hukum Ohm dinyatakan dengan rumus:

V / I

di mana:

  • R adalah resistansi (dalam ohm, Ω),
  • V adalah tegangan atau dianggap EMF kala itu (dalam volt, V),
  • I adalah arus (dalam ampere, A).

Intinya, hukum Ohm menyatakan bahwa resistansi adalah karakteristik tetap dari sebuah penghantar yang menentukan bagaimana tegangan (EMF) dan arus berhubungan satu sama lain. Ketika kita mengetahui dua dari tiga nilai (tegangan, arus, atau resistansi), maka kita dapat menghitung nilai yang ketiga menggunakan hukum Ohm.

Rasio adalah hubungan matematis antara dua angka yang menunjukkan seberapa besar salah satu angka dibandingkan dengan yang lain. Rasio sering dinyatakan dalam bentuk pecahan, perbandingan, atau dengan menggunakan tanda titik dua (:) di antara dua angka. Misalnya, rasio 3:1 berarti bahwa untuk setiap 3 unit dari angka pertama, ada 1 unit dari angka kedua.

Dalam konteks hukum Ohm, rasio yang dimaksud adalah perbandingan antara gaya elektromotif (E.M.F.) dan arus listrik yang mengalir melalui penghantar. Hukum Ohm menyatakan bahwa rasio ini, yang disebut resistansi, adalah konstan untuk sebuah penghantar tertentu. Jadi, jika 𝑉 adalah E.M.F. (tegangan) dan 𝐼 adalah arus, maka rasio 𝑉 / 𝐼​ adalah resistansi 𝑅.

I = V / R ;     RV/ I ;     V = I R

Rasio ini tidak berubah meskipun arus yang mengalir melalui penghantar berubah, selama penghantar tersebut berada dalam kondisi yang sama (misalnya, suhu konstan). Resistansi adalah sifat yang melekat pada bahan dan bentuk penghantar itu sendiri.

Hukum Ohm ditemukan sebelum penemuan elektron, dan pada saat itu, konsep arus konvensional sudah digunakan. Arus konvensional menganggap arus mengalir dari potensial tinggi (positif) ke potensial rendah (negatif). Ini sesuai dengan hukum Ohm, di mana tegangan V (potensial listrik) mendorong arus I melalui resistansi R. Hubungan ini bersifat matematis dan tidak tergantung pada jenis partikel yang membawa muatan listrik. Jadi secara matematis bisa disimpulkan hukum penemuan hukum Ohm juga cukup menguatkan penggunaan arus konvensional.

 

Penemuan Hukum Kirchoff dan Korelasinya dengan Arus Konvensional

Gustav Robert Kirchhoff, sumber gambar : id.wikipedia.org

Hukum Kirchhoff, yang ditemukan oleh Gustav Kirchhoff pada tahun 1845, terdiri dari dua hukum yang mendasar dalam analisis rangkaian listrik: Hukum Kirchhoff tentang Arus (KCL) dan Hukum Kirchhoff tentang Tegangan (KVL). Kedua hukum ini juga ditemukan sebelum penemuan elektron, dan mendukung arus konvensional karena mereka beroperasi pada prinsip-prinsip yang tidak bergantung pada jenis partikel pembawa muatan.

  1. Hukum Kirchhoff tentang Arus (KCL): Hukum ini menyatakan bahwa jumlah aljabar arus yang masuk ke suatu simpul (node) dalam rangkaian listrik sama dengan jumlah aljabar arus yang keluar dari simpul tersebut. Dalam bentuk matematis:

∑I_masuk = ∑I_keluar

KCL menggunakan konsep arus konvensional, yaitu arus yang dianggap mengalir dari potensial tinggi (positif) ke potensial rendah (negatif). Prinsip ini didasarkan pada hukum kekekalan muatan, yang mengatakan bahwa muatan total pada simpul tidak berubah seiring waktu.

  1. Hukum Kirchhoff tentang Tegangan (KVL): Hukum ini menyatakan bahwa jumlah aljabar tegangan di sekitar suatu loop tertutup dalam rangkaian listrik adalah nol. Dalam bentuk matematis:

∑V = 0

KVL didasarkan pada prinsip kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi total di sekitar loop harus tetap konstan. Dalam konteks arus konvensional, ini berarti bahwa jumlah potensial listrik (tegangan) yang diperoleh dan hilang di sekitar loop harus sama.


Penemuan Elektron dan Pengaruhnya Terhadap Teori Arus Konvensional

Penemuan elektron pada akhir abad ke-19 oleh J.J. Thomson merupakan salah satu momen penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Melalui eksperimen tabung sinar katoda, Thomson menemukan bahwa atom terdiri dari partikel subatomik bermuatan negatif yang dinamakan elektron. Penemuan ini mengguncang pandangan ilmiah yang ada saat itu mengenai struktur atom dan arus listrik.

Joseph John Thomson, sumber gambarid.wikipedia.org

Sebelum penemuan elektron, arus listrik dianggap mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Pandangan ini dikenal sebagai teori arus konvensional. Namun, penemuan elektron menunjukkan bahwa sebenarnya, muatan negatif (elektron) yang bergerak dari potensial negatif ke potensial positif. Meskipun fakta ilmiah ini bertentangan dengan teori arus konvensional, penggunaan teori arus konvensional tetap dipertahankan karena telah menjadi standar yang mapan dalam banyak aplikasi teknik dan pendidikan.

Tabung Sinar Katoda, sumber gambar : id.wikipedia.org

Konsekuensi dari penemuan elektron ini adalah pemahaman yang lebih mendalam mengenai fenomena listrik dan magnetik, serta pengembangan teknologi baru seperti dioda, transistor, dan berbagai perangkat elektronik lainnya. Pengetahuan ini juga memungkinkan para ilmuwan dan insinyur untuk merancang dan menganalisis rangkaian listrik dengan lebih akurat.


Interpretasi 1 : Sudah Melekat di Kalangan Ilmuan Terdahulu

Setelah mengumpulkan beberapa informasi sejarah, saya melihat memang tidak ada informasi yang secara tegas dan jelas menyatakan arus listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Akan tetapi jika melihat kembali informasi dari penemuan-penemuan terkait listrik yang berkembang sebelum penemuan elektron mengindikasikan bahwa para ilmuan di abad ke-18 memang menggunakan teori arus listrik konvensional dalam penelitiannya.

Saya mencoba mengorek-ngorek kembali informasi yang sudah saya dapat. Saya menemukan sebuah narasi yang ditulis dalam artikel tahun 2012 di salah satu media monline terkemuka Philadelphia yang mengutip teori dari Benjamin Franklin sebagai berikut:

"I started wondering whether we owe the weird backward definition of electric current to Benjamin Franklin, since he initiated our convention of calling opposite electrical charge positive and negative. Franklin’s “one fluid” theory held that electricity flowed within and between objects – excess fluid making some objects positive and a dearth of fluid making others negative. Charge could be moved around but not created or destroyed."

Terjemahan : "Saya mulai bertanya-tanya apakah kita berhutang definisi arus listrik yang aneh dan terbalik kepada Benjamin Franklin, karena dia yang memulai konvensi kita untuk menyebut muatan listrik yang berlawanan sebagai positif dan negatif. Teori 'satu fluida' Franklin menyatakan bahwa listrik mengalir di dalam dan di antara objek-objek – kelebihan fluida membuat beberapa objek menjadi positif dan kekurangan fluida membuat objek lainnya menjadi negatif. Muatan dapat dipindahkan tetapi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan."

Dikutip dari : whyy.org yang berjudul " Does our confusing electrical nomenclature start with Ben Franklin’s theory? ".

Dalam website lain saya juga menemukan teks asli dalam surat yang ditulis di abad ke-18 oleh Benjamin Franklin sebagai berikut:

"fire only circulates. Hence have arisen some new items among us. We say B (and other Bodies alike circumstanced) are electricised positively; A negatively; Or rather B is electricised plus and A minus ... These terms we may use till philosophers give us better."

Diterjemahkan sebagai berikut: "Api hanya bersirkulasi. Maka, muncul beberapa istilah baru di antara kita. Kita mengatakan B (dan benda-benda lain yang dalam keadaan serupa) teraliri listrik secara positif; A secara negatif; Atau lebih tepatnya B teraliri listrik plus dan A minus... Istilah-istilah ini dapat kita gunakan sampai para filsuf memberikan yang lebih baik."

Dari informasi diatas bisa kita garis bawahi bahwa memang permulaan teori arus konvensional berawal dari Benjamin Franklin yang memberikan istilah aliran listrik mengalir bersirkulasi dengan muatan positif dan negatif akibat dari kelebihan fluida dan kekurangan fluida. Kala itu percikan listrik dinamai dengan api listrik dan dimasukan ke dalam kategori fluida. Belum ada istilah-istilah kelistrikan seperti saat ini, maka Beliau memberikan istilah dengan muatan listrik positif dan negatif. Saya mencoba menggaris bawahi terkait pernyataan Benjamin Franklin bahwa aliran listrik hanya bersirkulasi, maka secara matematis kutub positif-lah yang memiliki potensial lebih tinggi untuk dapat mengalirkan arus ke kutub negatif yang potensial-nya lebih rendah. Mungkin dari sinilah muncul asumsi dari kalangan ilmuan bahwa listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Yang dikuatkan lagi oleh penemuan-penemuan berikutnya pada rangkaian listrik tertutup. Dan berdasar dari situlah, kemungkinan konsep ini menjadi familiar dan melekat di kalangan ilmuan kala itu.


Intepretasi 2 : Ilusi aliran muatan positif

Pada faktanya tidak ada muatan listrik yang bergerak dari kutub positif ke negatif. Akan tetapi masih ada fakta lain yang mendukung teori arus listrik konvensional, yaitu sebuah ilusi pembawa muatan positif. Kenapa saya menyebutnya ilusi. Dalam semikonduktor seperti dioda dan transistor menggunakan arah panah arus konvensional yang mengilustrasikan adanya muatan positif yang mengalir ke kutub negatif. Kita ambil contoh Dioda. Pada dioda ada kutub anoda dan katoda. Anoda adalah kutub dioda dengan bahan type P atau bermuatan positif yang secara fakta fisiknya adalah kekurangan elektron pada pita valensinya. Kekurangan elektron pada pita valensi tersebut dinamakan Hole, kemudian inilah yang akan dianggap sebagai pembawa muatan positif. Sedangkan kutub katoda adalah kebalikannya, artinya dengan bahan type N atau bermuatan negatif yang secara fakta fisiknya adalah kelebihan elektron dan jelas elektron memang pembawa muatan negatif. Antara anoda dan katoda ada bagian pemisah yang dinamakan zona deplesi. Ketika dioda dalam mode bias maju, maka pada zona deplesi akan mengalami perubahan yang signifikan ke arah konduktivitas.Kondisi tersebut disebabkan oleh elektron yang bergerak dari pita valensi ke pita konduktif sehingga aliran elektron bergerak dari negatif ke positif. Pada saat bersamaan pula menimbulkan efek kekosongan elektron di pita valensi yang dinamakan hole. Dalam kondisi ini ada ilusi ketika elektron bergerak dari kutub negatif ke positif maka akan timbul efek seolah-olah hole bergerak juga dari positif ke negatif. Secara tidak langsung kekosongan hole ini bisa diimajinasikan sebagai pembawa muatan positif yang mengalir ke negatif, walaupun pada faktanya hole itu tidaklah bergerak. Mungkin ilusi ini juga sedikit menguatkan teori arus konvensional.


Pertanyaan

1. Telah diketahui teori arus konvensional bertentangan dengan fakta, lalu kenapa masih digunakan?

Jawaban: Teori arus konvensional masih digunakan karena alasan historis dan praktis. Sebelum penemuan elektron, teori ini sudah menjadi standar yang mapan dan banyak digunakan dalam literatur ilmiah serta pendidikan. Mengubah standar ini secara luas akan membutuhkan upaya besar dalam pendidikan dan penyesuaian literatur teknik yang sudah ada. Selain itu, dalam banyak kasus praktis, penggunaan arus konvensional tidak mempengaruhi hasil akhir dari analisis rangkaian.

2. Jika alasannya hanya sejarah dan hanya untuk memudahkan (kepentingan praktis), maka apakah masih tetap relevan untuk menganalisa sebuah rangkaian listrik ataupun rangkaian elektronika?

Jawaban: Ya, teori arus konvensional masih relevan untuk menganalisis rangkaian listrik dan elektronika. Meskipun arah pergerakan elektron yang sebenarnya adalah dari negatif ke positif, analisis rangkaian berdasarkan arus konvensional tetap memberikan hasil yang akurat dan konsisten. Ini karena hukum-hukum dasar listrik, seperti hukum Ohm dan hukum Kirchhoff, berlaku terlepas dari arah arus yang diasumsikan.


Kesimpulan

Jika dilihat dari teks sejarah sebelum penemuan elektron, memang tidak ada teks yang secara tegas menyebutkan arah aliran arus termasuk teks dari Benjamin Franklin. Namun para ilmuan kala itu menerima usulan dari Benjamin Franklin tentang muatan listrik positif dan negatif yang dapat mengalir secara sirkulasi. Dan secara umum, tentunya sudah familiar difahami bahwa muatan positif adalah kelebihan muatan dan muatan negatif adalah kekurangan muatan. Hal tersebut juga sejalan dengan hukum Ohm, di mana secara matematis : Ketika salah satu kutub memiliki potensial tegangan lebih besar (V), maka akan mendorong arus (I) lebih besar pula melewati hambatan (R) ke kutub yang potensialnya lebih rendah. Walaupun dalam hal ini, sebenarnya hukum Ohm tidak menjelaskan arah aliran arus listrik.

Penemuan elektron oleh J.J. Thomson memberikan dampak besar terhadap pemahaman kita tentang arus listrik dan struktur atom. Penemuan elektron juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi baru yang mengubah dunia, termasuk perangkat elektronik modern seperti dioda dan transistor.  

Meskipun penemuan Thomson menunjukkan bahwa elektron bergerak dari negatif ke positif, namun teori arus konvensional yang menyatakan arus mengalir dari positif ke negatif tetap digunakan. Kenapa demikian, sekali lagi karena alasan historis dan praktis. Teori ini telah menjadi standar yang mapan dan memudahkan analisis rangkaian listrik. Dalam banyak kasus praktis, penggunaan arus konvensional tidak mempengaruhi hasil akhir dari analisis dan perhitungan rangkaian listrik.

Bisa disimpulkan jika dalam analisa rangkaian elektronika secara umum masih menggunakan arus listrik konvensional. Sedangkan dalam analisa fisika mendalam menggunakan teori arus listrik elektron. Dengan demikian, semoga pemahaman kita tentang arus listrik dan elektronika terus berkembang seiring dengan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan.

 

Referensi:

  1. Ushistory.org - Benjamin Franklin's Contribution to Electricity
  2. Id.Wikipedia.org - Luigi Galvani
  3. Id.Wikipedia.org - Alessandro Volta
  4. Id.wikipedia.org - Georg Ohm
  5. Id.wikipedia.org - Gustav Robert Kirchhoff
  6. Id.wikipedia.org Joseph John Thomson
  7. Id.wikipedia.org - GGL (Gaya Gerak Listrik)
  8. Electric Current - Physics LibreTexts
  9. Wikipedia - Fluid Theory of Electricity
  10. All About Circuits - Conventional Flow Notation
  11. Archive.org- Experiments and observations on electricity, made at Philadelphia in America
  12. Archive.org - On the Electricity Excited by the Mere Contact of Conducting Substances of Different Kinds. In a Letter from Mr. Alexander Volta, F. R. S. Professor of Natural Philosophy in the University of Pavia, to the Rt. Hon. Sir Joseph Banks, Bart. K. B. P. R. S.
  13. Archive.org - Ohm 1827 The galvanic circuit investigated mathematically
  14. Whyy.org - Does our confusing electrical nomenclature start with Ben Franklin’s theory?
  15. EXPERIMENTS AND OBSERVATIONS ON ELECTRICITY, MADE AT Philadelphia in America, BY Mr. BENJAMIN FRANKLIN, AND Communicated in several Letters to Mr. P. Collinson, of London, F. R. S.
  16. Wikipedia.org - Cathode ray
  17. Wikipedia.org - JJ Thomson

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts